hubungan parasosial
mengapa kita merasa teman dekat dengan musisi yang tak kenal kita
Pernahkah kita tiba-tiba merasa patah hati yang luar biasa saat mendengar musisi favorit kita meninggal dunia? Atau mungkin, kita merasa sangat kesal saat idola kita dihujat di internet, seolah-olah yang diserang adalah sahabat kita sendiri dari bangku SMP. Rasanya nyata. Dada kita sesak. Air mata kita sungguhan menetes. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada satu fakta kecil yang agak absurd: mereka bahkan tidak tahu kita hidup di bumi ini. Kok bisa kita dengan sebegitu mudahnya menangisi orang asing?
Jangan buru-buru merasa aneh atau menganggap diri kita sedang berhalusinasi. Apa yang kita rasakan itu sangat wajar. Sains punya penjelasan yang cukup elegan untuk fenomena ini. Di dunia psikologi, ikatan sepihak ini dikenal dengan istilah parasocial relationship atau hubungan parasosial. Istilah ini sebenarnya bukan barang baru. Dua sosiolog bernama Donald Horton dan R. Richard Wohl sudah memperkenalkannya sejak tahun 1956. Saat itu, mereka mengamati orang-orang yang merasa punya ikatan emosional mendalam dengan pembawa acara televisi. Tapi, mari kita simpan buku sejarahnya sebentar. Pertanyaan yang lebih mendesak dan menarik untuk kita bedah bersama adalah: kenapa otak manusia yang konon canggih ini bisa tertipu sehebat itu?
Untuk menjawabnya, kita perlu menengok ke dalam hardware di kepala kita. Otak manusia berevolusi di alam liar dalam kelompok suku kecil. Pada masa itu, aturannya sederhana. Kalau kita sering melihat wajah seseorang, sering mendengar suaranya, dan tahu seluk-beluk ceritanya, sudah pasti orang itu adalah anggota suku kita. Berarti dia adalah teman yang aman. Masalahnya, evolusi biologi berjalan jauh lebih lambat daripada laju teknologi. Otak yang kita pakai hari ini saat menatap layar ponsel, pada dasarnya masih bersistem operasi sama dengan nenek moyang kita yang hidup berpindah-pindah. Saat kita rutin melihat vlog musisi favorit, membaca tweet curhatan mereka, dan mendengarkan suara mereka setiap hari, otak purba kita mengambil kesimpulan logis yang sayangnya keliru. Otak kita membatin, "Oh, kita sering menghabiskan waktu bersama orang ini. Dia pasti sahabat baik kita." Lalu, muncul satu pertanyaan lanjutan. Kenapa perasaan ini sering kali jauh lebih kuat kepada musisi dibanding, katakanlah, aktor film Hollywood?
Inilah rahasia terbesarnya. Musik adalah semacam cheat code atau kode curang untuk menembus pertahanan neurobiologis manusia. Berbeda dengan aktor yang sekadar memerankan karakter fiksi, musisi menjual narasi kehidupan nyata mereka. Dan mari kita ingat bagaimana cara kita menikmati musik hari ini. Kita memasang earphone. Suara mereka mengalir langsung ke dalam saluran telinga, secara harfiah bergetar dan berbisik di dalam kepala kita. Ketika seorang musisi menyanyikan lirik tentang patah hati yang kebetulan sama persis dengan pengalaman kita, mirror neurons atau saraf cermin di otak kita menyala terang. Saraf inilah yang membuat kita bisa berempati. Tubuh kita lantas disuntik oleh oksitosin, hormon pembentuk ikatan sosial, dan dopamin, hormon penghargaan. Di titik inilah batas antara realitas dan layar melebur hancur. Secara neurokimia, otak kita tidak bisa membedakan antara sahabat nyata yang menghibur kita di meja kafe, dengan Taylor Swift atau RM BTS yang bernyanyi dari aplikasi Spotify. Bagi amigdala kita—sang pusat emosi di otak—hubungan persahabatan itu seratus persen nyata.
Mengetahui fakta sains ini seharusnya membuat kita lebih berwelas asih pada diri sendiri dan orang lain. Merasa hancur saat musisi favorit kita terluka bukanlah tanda bahwa kita kehilangan akal sehat. Sebaliknya, itu adalah bukti betapa indahnya desain empati manusia. Sistem saraf kita memang diciptakan untuk terhubung, untuk merasakan kebersamaan, meskipun dipisahkan oleh piksel layar dan ribuan kilometer jarak geografis. Tentu saja, seperti semua hal di dunia ini, kita tetap butuh jangkar. Kita harus ingat untuk menyeimbangkan investasi emosi kita antara teman di dunia maya dan teman di dunia nyata yang bisa membawakan makanan saat kita sakit. Tapi malam ini, saat teman-teman kembali memasang earphone dan mendengarkan lagu dari musisi kesayangan, nikmati saja perasaannya. Peluk rasa hangat itu. Karena meskipun sang musisi tidak tahu nama kita, neurokimia di dalam otak kita berteriak keras bahwa kita tidak pernah sendirian.